Benarkah Sekolah Daring Bikin Darting?

Rupiahme
5 min readDec 7, 2020

--

Mewabahnya Virus Corona di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, memang membawa dampak yang sangat luar biasa di berbagai sektor. Sebut saja salah satu sektor yang paling terkena imbasnya adalah pendidikan. Hampir semua sekolah di dunia mau tak mau harus menyesuaikan kondisi di mana kegiatan belajar-mengajar secara langsung harus dibatasi bahkan ditiadakan untuk menekan angka penyebaran Covid19. Sebagai gantinya, sekolah-sekolah perlu menerapkan sistem pembelajaran berbasis daring online yang mana sistem pembelajaran ini dapat dijalankan jarak jauh.

Tak hanya sekolah formal saja yang menggunakan sistem pembelajaran daring, kegiatan belajar lain seperti program bimbingan belajar dan les private Jakarta (dan sejenisnya) juga wajib menggunakan sistem yang sama. Lantas, apakah sekolah daring ini efektif atau apakah ada kendala yang berarti terkait dengan sekolah daring?

Kurang Efektifnya Sekolah Daring

Jika ditanya efektif atau tidak, sekolah daring bisa dibilang kurang efektif. Ada cukup banyak keluhan yang disampaikan baik oleh pihak siswa, orang tua siswa, maupun dari pihak guru itu sendiri. Bagi siswa, misalnya, sekolah daring membuat mereka memiliki beban belajar yang terlampau tinggi, dan mengganggu konsentrasi belajar. Mereka tak hanya harus mengikuti kegiatan belajar secara online setiap hari, tetapi juga harus mengerjakan kewajiban sekolah lainnya, seperti tugas, kuis, dan PR yang membuat pikiran dan fisik mereka terkuras. Alhasil, mereka kurang bisa fokus untuk mengikuti kegiatan belajar di keesokan harinya.

Biaya untuk Kuota

Kemudian bagi orang tua siswa, ada beberapa hal yang membuat para orang tua siswa harus ‘menyiapkan’ segalanya demi memenuhia kebutuhan sekolah daring putera-puterinya. Contoh yang paling nyata dan yang paling sering dikeluhkan adalah soal biaya tambahan yang harus mereka gelontorkan selama sekolah daring berlangsung. Biaya tambahan ini sudah pasti dibelanjakan untuk pemenuhan kebutuhan kuota.

Dalam seminggu saja, kebutuhan kuota untuk sekolah berbasis daring tidaklah sedikit. Hitung saja dalam sehari rata-rata kuota yang perlu disiapkan oleh orang tua sebesar 2GB yang juga harganya tak murah. Kira-kira berapa rupiah yang harus dikeluarkan oleh orang tua hanya untuk membeli kuota untuk mendukung kegiatan sekolah daring selama satu bulan saja. Belum lagi soal gadget yang mana tidak semua siswa memiliki gadget yang kompatibel untuk kegiatan sekolah daring semacam ini.

Kendala Teknis Sekolah Daring

Terlepas dari permasalahan di atas, ada juga kendala lainnya yang terkait dengan teknis, baik teknis soal jaringan maupun teknis pada kegiatan belajar mengajar secara online. Jaringan internet yang seringnya kurang stabil ini menjadi salah satu kendala yang sangat menganggu. Bagaimana tidak mengganggu, siswa dan guru yang seharusnya dapat menjalankan perannya masing-masing menjadi kurang efektif hanya karena kualitas jaringan internet.

Sekolah Daring Picu ‘Darting’

Lantas, banyak juga yang mengatakan bahwa sekolah daring bikin ‘darting’, apakah benar begitu? Oh iya, istilah ‘darting’ di sini adala sebuah singkatan dari ‘darah tinggi’. istilah ini muncul pasca adanya sistem pembelajaran daring, baik untuk jenjang sekolah hingga jenjang kuliah. Istilah darting ini pertama kali muncul dari para orang tua atau wali siswa yang mengaku sangat kesulitan ketika mendampingi siswa belajar dengan menggunakan sistem online.

‘Darting’ Dialami oleh Orang Tua Siswa

Jelas saja bikin darting, kata para orang tua dan wali siswa; mereka kini mau tak mau harus berperan sebagai guru. Yang menjadi permasalahan di sini adalah biasanya sebagian besar anak kurang patuh terhadap orang tuanya sendiri, terutama ibu. Mereka akan lebih patuh sama guru atau tutor les private Jakarta.

Tak hanya itu saja, seringnya tugas-tugas sekolah juga dikerjakan oleh orang tua siswa. Alasannya adalah karena siswa tidak mampu mengerjakan akibat pikiran mereka terlalu lelah akibat beban belajar online yang sangat tinggi. Nah, dari fenomena ini, banyak orang tua siswa yang kemudian mengatakan, “ sekolah daring, tapi yang sekolah orang tua, yang jadi guru juga orang tua”.

Dan yang paling menarik adalah ada satu penyebab yang membuat para orang tua atau wali siswa semakin darting, yaitu game. Karena setiap hari siswa harus menggunakan gadget, terutama Smartphone, seringnya anak-anak memanfaatkan momen sekolah daring ini untuk bermain game. Banyak siswa yang kemudian memanfaatkan Smartphone orang tua untuk bermain game online dengan alasan untuk sekolah daring. Tentu saja ini sangat merugikan karena selain boros kuota, anak juga akan sering berbohong hanya untuk bermain game.

Nah, dari pengalaman banyak orang tua terkait dengan sikap siswa yang seperti ini, memang perlu ditekankan bahwa siswa memang perlu ada pendampingan dari orang tua selama kegiatan belajar daring berlangsung. Meski memang tidak dipungkiri bahwa banyak orang tua atau wali siswa yang tidak bisa 100% mendampingi putera-puterinya karena rutinitas harian mereka, setidaknya sekali-kali mereka memantau putera-puterinya.

‘Darting’ Dialami oleh Guru Kelas

Rupanya tak hanya orang tua atau wali siswa saja yang merasakan darting alias darah tinggi. Para guru juga merasakan pengalaman yang sama. Jika dilihat dari perspektif guru, sekolah daring di tengah masa pandemi ini juga sangat menyulitkan. Ada perubahan yang signifikan yang terjadi selama sistem pembelajaran online ini berlangsung. Perubahan yang paling terasa adalah sikap para siswa. Banyak guru yang mengatakan bahwa banyak sekali siswa yang kurang disiplin, terutama disiplin waktu. Contoh sederhananya adalah ketika siswa harus mengumpulkan tugas dan absen.

Banyak siswa yang terlambat mengirimkan tugas dengan alasan susah sinyal, tidak ada kuota, dan yang lebih parah ada yang terlambat mengumpulkan tugas karena menunggu jawaban tugas dari teman. Di sisi lain, guru sangat hafal mana siswa yang beneran rajin dan mana siswa yang malas.

Menurut perspektif guru, sekolah daring ini rupanya dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa. Selama pelaksanaan sekolah daring, motivasi siswa cenderung menurun. Hal ini bisa jadi akibat suasana belajar yang santai tanpa adanya pengawasan dari pihak sekolah secara langsung. Bahkan ada yang lebih parah. Ada siswa yang terlalu santai, bahkan sempat liburan ke luar kota dan mengabaikan kewajibannya sebagai siswa yang seharusnya masih aktif belajar.

Kemudian ketika kegiatan belajar dihandle langsung oleh guru kelas, para siswa cenderung pasif. Ketika sesi Tanya-jawab berlangsung, seringnya tidak ada satu siswa pun yang bertanya tentang materi yang baru saja disampaikan oleh guru.

‘Darting’ Dialami oleh Siswa

Setelah dilakukan riset kecil-kecilan, rupanya tak hanya guru dan orang tua saja yang darting selama sekolah daring ini berlangsung. Siswa pun merasakannya. Sebagian besar siswa mengeluh akan banyaknya tugas yang dibebankan oleh guru. Mereka juga mengaku kesulitan untuk mengerjakannya. Penyebabnya adalah karena mereka seringnya kurang bisa memahami materi yang disampaikan oleh guru seperti saat belajar bahasa inggris. Mengapa tidak langsung bertanya saja soal bagian materi yang belum dpahami? Jawaban siswa adalah mereka tidak leluasa bertanya. Belum lagi faktor teknis seperti susah sinyal atau kuota yang menipis. Banyak siswa juga mengeluh soal uang jajan yang ditiadakan dengan alasan untuk membeli kuota. Semua yang sabar ya.

--

--